Komunitas Burung Hantu Madiun (Kubuhama)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun - Bagi sebagian orang, burung hantu dianggap menyimpan mitos tersendiri. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan niat Evan Yardian dkk memelihara jenis burung karnivora itu. Di sisi lain, mereka juga kerap terlibat kegiatan sosial dan edukasi.

Dua ekor burung hantu tampak menghiasi teras rumah Evan Yardian di Jalan Sri Unggul, Kelurahan Kanigoro, Kartoharjo, Kota Madiun. Pun, setiap kali ada orang melintas, jenis unggas pemakan daging itu selalu menatapnya dengan tajam.

Sekitar pukul 15.00, beberapa rekan Evan dari Komunitas Burung Hantu Madiun (Kubuhama) datang dengan membawa burung piaraan masing-masing. Jenisnya beragam, mulai buffy fish owl, javan scoop owl, brown hawk owl, strix seloputo, hingga snowy owl. "Komunitas ini terbentuk pada 2012 lalu," kata Evan.

Kubuhama awalnya dirintis lima orang. Pun, anggotanya sempat mencapai puluhan. Namun, saat ini yang aktif hanya 12. "Selain faktor pandemi, banyak juga yang kerja di luar kota," ungkap Evan.

Bagi Evan dkk, memelihara burung hantu bukan hal mudah. Perawatannya terbilang sulit dan membutuhkan biaya tidak sedikit. Dalam sehari mereka merogoh kocek Rp 10 ribu-Rp 20 ribu untuk pakan burung hantu miliknya. "Pergantian bulu juga harus diperhatikan," sebutnya

Selama ini, aktivitas Kubuhama tidak sekadar kumpul bareng sesama pehobi burung hantu. Evan dkk juga kerap menggelar kegiatan sosial dan edukasi ke masyarakat. "Kami sering menyantuni anak panti asuhan dan memberikan edukasi ke sekolah," ujarnya. *** (isd/c1



Hengky Ristanto

copyright© 2023 hallomadiun.com